BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia adalah makhluk yang tidak
dapat hidup dengan sendiri. Manusia diciptakan oleh Tuhan YME sebagai makhluk
sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Di dalam kehidupannya manusia
memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Hal ini merupakan
salah satu kodrat manusia yang selalu ingin berhubungan dengan manusia lain.
Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga berjalan dengan cepat. Perubahan-perubahan hanya dapat diketemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola prilaku organisasi, sususnan kelembagaan masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Terjadinya perubahan-perubahan tersebut disebabkan karena adanya interaksi sosial.
Setiap manusia selama hidup pasti mengalami perubahan-perubahan. Perubahan dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, akan tetapi ada juga berjalan dengan cepat. Perubahan-perubahan hanya dapat diketemukan oleh seseorang yang sempat meneliti susunan dan kehidupan suatu masyarakat pada suatu waktu dan membandingkannya dengan susunan dan kehidupan masyarakat tersebut pada waktu yang lampau. Perubahan-perubahan masyarakat dapat mengenai nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola prilaku organisasi, sususnan kelembagaan masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Terjadinya perubahan-perubahan tersebut disebabkan karena adanya interaksi sosial.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah diatas, penulis merumuskan rumusan makalah sebagai
berikut:
1. Apa alasan manusia dikatakan sebagai makhluk sosial?
2. Faktor-faktor apa saja yang mendasari terjadinya interaksi
sosial?
3. Media (agen) sosialisasi apa saja yang menjadi wahana di
mana individu akan mengalami sosialisasi untuk mempersiapkan dirinya masuk ke
dalam masyarakat sepenuhnya?
C. Tujuan Makalah
Makalah ini ditulis agar penulis dan
pembaca mampu mempelajari tentang manusia sebagai makhluk sosial.
D. Kegunaan Makalah
Makalah ini disusun dengan harapan
memberikan kegunaan dan manfaat bagi:
1. Penulis, sebagai wahana penambahan pengetahuan dan konsep
keilmuan khususnya tentang manusia sebagai makhluk sosial.
2. Pembaca, sebagai media informasi tentang manusia sebagai
makhluk sosial.
E. Prosedur Makalah
Makalah ini disusun dengan
menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah metode
deskriptif. Melalui metode ini penulis akan menguraikan permasalahan yang
dibahas secara jelas dan konprehensif. Data teoritis dalam makalah ini
dikumpulkan dengan menggunakan studi pustaka, artinya penulis mengambil data
melalui kegiatan membaca berbagai literatur yang relevan dengan tema makalah.
Data tersebut diolah dengan teknis analisis isi melalui kegiatan
mengeksposisikan data serta mengaplikasikan data tersebut dalam konteks tema
makalah. Selain itu , penulis melakukan browsing internet
BAB II : PEMBAHASAN
Secara kodrati, manusia merupakan makhluk monodualistis,
artinya selain sebagai makhluk individu, manusia juga berperan sebagai makhluk
sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk mampu bekerjasama dengan
orang lain sehingga tercipta sebuah kehidupan yang damai. Tanpa bantuan manusia
lainnya, manusia tidak mungkin bisa berjalan dengan tegak. Dengan bantuan orang
lain, manusia bisa makan menggunakan tangan, bisa berkomunikasi atau bicara,
dan bisa mengembangkan seluruh potensinya kemanusiaannya. Seseorang memiliki
sikap sosial apabila ia memperhatikan atau berbuat baik terhadap orang lain.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sikap sosial merupakan
beberapa tindakan menuju kebaikan terhadap sesamanya. Selain itu, Manusia
dikatakan sebagai mahkluk sosial karena pada diri manusia ada dorongan untuk
berinteraksi dengan orang lain. Manusia memiliki kebutuhan mencari kawan.
Kebutuhan untuk berteman dengan orang lain, sering kali didasarkan kepentingan
dan persamaan ciri.
Dapat disimpulkan, bahwa manusia dikatakan sebagai mahkluk
sosial dengan beberapa alasan, yaitu:
· Ada dorongan untuk berinteraksi.
· Manusia tunduk pada aturan norma sosial.
· Manusia memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dengan satu
sama lain.
· Potensi manusia akan benar-benar berkembang apabila ia hidup
ditengah-tengah manusia.
Berikut ini adalah pengertian dan definisi makhluk sosial menurut para ahli:
· Menurut KBBI :
Makhluk social adalah manusia yang
berhubungan timbal balik dengan manusia lain.
· Menurut Elly M. Setiadi :
Makhluk social adalah makhluk yang
didalam hidupnya tidak bias melepaskan diri dari pengaruh orang lain.
· Menurut Dr. Johannes Garang :
Makhluk social adalah makhluk
berkelompok dan tidak mampu hidup menyendiri.
· Menurut Aristoteles :
Makhluk sosial merupakan zoon
politicon, yang berarti menusia dikodratkan untuk hidup bermasyarakat dan
berinteraksi satu sama lain
·
Menurut Liturgis :
Makhluk
sosial merupakan makhluk yang saling berhubungan satu sama lain serta tidak
dapat melepaskan diri dari hidup bersama.
Ø INTERAKSI
SOSIAL
Kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi
sosial adalah hubungan timbal balik saling mempengaruhi antara individu,
kelompok sosial, dan masyarakat. Interaksi adalah proses di mana orang-oarang
berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti
kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari
hubungan satu dengan yang lain.
Ada beberapa pengertian interaksi sosial menurut para ahli:
·
Menurut H. Booner dalam bukunya
Social Psychology memberikan rumusan interaksi sosial bahwa: “Interaksi sosial
adalah hubungan antar dua individu atau lebih, dimana kelakuan individu yang
satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya.”
· Menurut Gillin dan Gillin (1954) yang menyatakan bahwa
interaksi sosial adalah hubungan-hubungan antara orang-orang secara individual,
antar kelompok orang, dan orang perorangan dengan kelompok.
· Maryati dan Suryawati (2003) menyatakan bahwa, “Interaksi
sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons
antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok.”
· Murdiyatmoko dan Handayani (2004), “Interaksi sosial adalah
hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi
yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan
struktur social.”
·
Siagian (2004) “Interaksi positif
hanya mungkin terjadi apabila terdapat suasana saling mempercayai, menghargai,
dan saling mendukung.”
Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa interaksi
sosial adalah suatu hubungan timbal balik antar sesama manusia yang saling
mempengaruhi satu sama lain baik itu dalam hubungan antar individu, antar
kelompok maupun atar individu dan kelompok dalam kehidupan social.
Ø MACAM-MACAM INTERAKSI SOSIAL
Menurut Maryati dan Suryawati (2003) interaksi sosial dibagi
menjadi tiga macam, yaitu:
·
Interaksi antara individu dan
individu
Dalam hubungan ini bisa terjadi
interaksi positif ataupun negatif. Interaksi positif, jika hubungan yang
terjadi saling menguntungkan. Interaksi negatif, jika hubungan timbal balik
merugikan satu pihak atau keduanya (bermusuhan).
·
Interaksi antara individu dan kelompok:
Interaksi ini pun dapat berlangsung
secara positif maupun negatif. Bentuk interaksi sosial individu dan kelompok
bermacam-macam sesuai situasi dan kondisinya.
·
Interaksi sosial antara kelompok dan
kelompok:
Interaksi sosial kelompok dan kelompok
terjadi sebagai satu kesatuan bukan kehendak pribadi. Misalnya, kerja sama
antara dua perusahaan untuk membicarakan suatu proyek
Ø FAKTOR-FAKTOR YANG MENDASARI
TERJADINYA INTERAKSI SOSIAL
·
Imitasi adalah suatu proses peniruan
atau meniru.
Banyak perilaku kita sebenarnya
diawali dengan meniru. Salah satu contohnya meniru potongan rambut, model
pakaian, model celana, dan lain-lain. Proses peniruan ini lebih mudah terjadi
dan mudah berubah. Artinya proses peniruan seringkali tidak bertahan lama,
karena apabila ada model baru, maka model yang lama akan ditinggalkan dan
berubah meniru ke model yang baru. Biasanya yang ditiru adalah hal-hal yang
artificial yaitu hal-hal yang nampak saja dan bersifat fisil.
·
Sugesti adalah suatu proses di mana
seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah
laku orang lain tanpa dkritik terlebih dahulu.
Yang dimaksud sugesti di sini adalah
pengaruh pysic, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain,
yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik. Arti sugesti dan imitasi dalam
hubungannya, dengan interaksi sosial adalah hampir sama. Bedanya ialah bahwa
imitasi orang yang satu mengikuti salah satu dirinya, sedangkan pada sugesti
seeorang memberikan pandangan atau sikap dari dirinya, lalu diterima oleh orang
lain di luarnya.
· Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi
identi (sama) dengan orang lain, baik secara lahiriah maupun batiniah.
·
Simpati adalah perasaan tertariknya
orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis
rasional, melainkan berdasarkan penilain perasaan seperti juga pada proses
identifikasi.
Ø BENTUK-BENTUK INTERAKSI SOSIAL
Setidaknya ada dua macam bentuk interaksi sosial sebagai
wujud proses sosial dalam kehidupan masyarakat. Dua bentukproses interaksi
sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif.
Ø Proses asosiatif
Proses asosiatif adalah bentuk
interaksi sosial yang dapat meningkatkan hubungan solidaritas antarindividu.
Kerjasama (cooperation)
Kerjasama merupakan bentuk interaksi
sosial yang utama. Kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara
perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan
bersama.
Kerjasama ini semakin menguat
apabila ada tantangan dari luar kelompoknya. Kerjasama bisa timbul jika terjadi
hal-hal berikut.
a)
Orang menyadari bahwa mereka
mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama.
b)
Kedua belah pihak memiliki sumbangan
atau kontribusi untuk memenuhi kepentingan mereka melalui kerjasama.
Kerjasama merupakan bentuk proses sosial yang baik, tetapi
bukan kerjasama dalam hal yang negatif, seperti kerjasama ketika para siswa
sedang melaku-kan ulangan atau ujian. Apakah kamu melihat ada bentuk kerjasama
yang lain di lingkunganmu? Ada beberapa bentuk kerjasama untuk menyelesaikan
pekerjaan iru antara lain sebagai berikut.
a)
Kerukunan
Kerukunan adalah hidup berdampingan secara damai dan melakukan kerjasama secara bersama-sama. Kerukunan dapat ditunjukkan dari kegiatan kerja bakti yang dilakukan warga atau secara bergiliran melakukan ronda untuk menjaga keamanan kampung. Kerukunan pada intinya mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
Kerukunan adalah hidup berdampingan secara damai dan melakukan kerjasama secara bersama-sama. Kerukunan dapat ditunjukkan dari kegiatan kerja bakti yang dilakukan warga atau secara bergiliran melakukan ronda untuk menjaga keamanan kampung. Kerukunan pada intinya mencakup gotong-royong dan tolong-menolong.
b)
Tawar-menawar (bargaining)
Tawar-menawar adalah bentuk perjanjian
mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
c)
Kooptasi
Kooptasi adalah kerjasama dalam bentuk mau menerima pendapat atau ide orang atau kelompok lain. Hal itu diperlukan agar kerjasama dapat berlanjut dengan baik.
Kooptasi adalah kerjasama dalam bentuk mau menerima pendapat atau ide orang atau kelompok lain. Hal itu diperlukan agar kerjasama dapat berlanjut dengan baik.
d)
Koalisi
Koalisi adalah bentuk kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai kesamaan tujuan. Koalisi dilakukan agar memperoleh hasil yang lebih besar.
Koalisi adalah bentuk kerjasama antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai kesamaan tujuan. Koalisi dilakukan agar memperoleh hasil yang lebih besar.
e)
Joint venture
Joint venture adalah bentuk
kerjasama yang dilakukan oleh beberapa perusahaan. Dengan joint venture
diharapkan hasil atau keuntungan yang diperoleh dari sebuah usaha akan lebih
besar.
Ø Akomodasi
(accomodation)
Akomodasi dipergunakan dalam dua
arti, yaitu yang menunjuk pada suatu keadaan dan yang menunjuk pada suatu
proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu
keseimbanga dalam interaksi di antara orang-orang, yang kaitan dengan
norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Sedangkan sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia
untuk mencapai kestabilan.
Akomodasi mempunyai tujuan
sebagai berikut.
1)
Mengurangi pertentangan.
2)
Mencegah pertentangan untuk
sementara.
3)
Memungkinkan terjadinya kerjasama.
4)
Mengusahakan peleburan antara
kelompok social.
Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk
menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak
kehilangan kepribadiannya. Ada beberapa bentuk akomodasi. Bentuk-bentuk
akomodasi tersebut antara lain sebagai berikut.
1)
Paksaan (coercion)
Paksaan merupakan bentuk akomodasi
yang prosesnya dilaksanakan karena adanya unsuur paksaan. Paksaan merupakan
bentuk akomodasi dengan salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah
dibandingkan dengan pihak lawan.
2)
Kompromi
Kompromi adalah bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
Kompromi adalah bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya, agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
3)
Penengah (arbitration)
Adanya penengah (arbitration) atau
pihak ketiga merupakan suatu cara unruk mencapai kompromi apabila pihak-pihak
yang berhadapan tidak sanggup mencapai penyelesaian. Pertentangan diselesaikan
oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bertentangan.
4)
Mediasi
Mediasi menyerupai penengah. Pada mediasi hadirnya pihak ketiga hanya sebagai penasihat belaka. Tugas pihak ketiga adalah memberi nasihat agar para pihak yang bertikai menemukan penye¬lesaian untuk selanjutnya melakukan perdamaian.
Mediasi menyerupai penengah. Pada mediasi hadirnya pihak ketiga hanya sebagai penasihat belaka. Tugas pihak ketiga adalah memberi nasihat agar para pihak yang bertikai menemukan penye¬lesaian untuk selanjutnya melakukan perdamaian.
5)
Konsilisasi
Konsilisasi adalah suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu tujuan bersama.
Konsilisasi adalah suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu tujuan bersama.
6)
Kesabaran
Kesabaran suatu bentuk akomodasi tanpa persetuju-an yang resmi. Pada usaha ini pihak yang berselisih menyadari betapa berselisih itu tidak bermanfaat. Secara perlahan-lahan perselisihan diharapkan akan hilang atau setidaknya berkurang.
Kesabaran suatu bentuk akomodasi tanpa persetuju-an yang resmi. Pada usaha ini pihak yang berselisih menyadari betapa berselisih itu tidak bermanfaat. Secara perlahan-lahan perselisihan diharapkan akan hilang atau setidaknya berkurang.
7)
Terperangkap (skakmat)
Terperangkap hingga tak dapat
bergerak lagi adalah suatu bentuk akomodasi di mana dua pihak yang sedang
berselisih yang mempunyai kekuatan seimbang berhenti pada suatu titik tertentu.
8)
Keputusan pengadilan
Keputusan pengadilan adalah
penye¬lesaian perselisihan melalui jalan pengadilan. Hal ini dilakukan karena
kedua belah pihak mengalami kesulitan mencari jalan damai.
1.
Asimilasi
Asimilasi adalah penyesuaian
sifat-sifat asli yang dimiliki dengan sifat-sifat sekitar. Dalam hal proses
sosial, asimilasi berkaitan dengan peleburan perbedaaan budaya. Proses
asimilasi bisa terj adi bila terdapat hal-hal berikut:
· Perbedaan kebudayaan kelompok-kelompok manusia.
· Terjadi pergaulan secara langsung dan intensif.
· Ada perubahan kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia dan
saling menyesuaikan diri.
Beberapa faktor yang mempermudah asimilasi adalah toleransi,
sikap menghargai orang asing, sikap terbuka yang dimiliki para pemimpin,
per-samaan unsur-unsur kebudayaan, dan kesempatan-kesempatan yang seimbang di
bidang ekonomi.
Ø Proses disosiatif
Proses disosiatif adalah bentuk
interaksi sosial yang dapat merenggangkan hubungan solidaritas antarindividu.
Proses disosiatif meliputi persaingan, kontravensi, dan konflik.
a)
Persaingan (competition) Persaingan
adalah proses sosial dimana individu atau kelompok manusia bersaing mencari
keuntungan melalui suatu bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi
pusat perhatian umum, dengar. cara menarik perhatian publik atau mem-pertajam
prasangka yang ada, tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Beberapa bentuk
persaingan antara lain persaingan ekonomi, persaingan kebu¬dayaan, persaingan
kedudukan dan peranan, serta persaingan ras.
b)
Kontravensi (contravention)
Pada hakikatnya kontravensi
merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan
atau pertikaian. Kontravensi adalah sikap mental yang tersembunyi terhadap
orang-orang lain atau unsur-unsur kebudayaan £olongan tertentu, yang dapat
berubah menjadi ^encian, tetapi tidak sampai pada pertentangan pertikaian.
Secara umum, bentuk kontravensi meliputi penolakan, keengganan, perlawanan,
per-buatan menghalang-halangi, protes, dan mengecewa-kan rencana pihak lain.
c)
Pertentangan/pertikaian (conflict)
interaksi sosial dalam bentuk
pertentangan atau pertikaian terjadi jika masing-masing pihak yang sedang
mengadakan interaksi, tidak menemukan kesepahaman mengenai sesuatu, kemudian
berlanjut menjadi adu kekuatan, lalu timbul adanya perten¬tangan atau
pertikaian. Pertentangan atau pertikaian tersebut dapat bersifat sementara atau
terus-menerus.
Ø SOSIALISASI
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan
atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya
dalam sebuah kelompok atau masyarakat.
Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena
dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh
individu.
Pengertian sosialisasi menurut
beberapa para ahli:
·
Charlotte Buhler
Sosialisasi adalah proses yang
membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana
cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan
berfungsi dalam kelompoknya
· Koentjaraningrat
Sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.
Sosialisasi adalah seluruh proses di mana seorang individu sejak masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain yang hidup dalam masyarakat sekitarnya.
· Paul B. Horton
Sosialisasi adalah suatu proses
dimana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat
tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
Ø JENIS-JENIS SOSIALISASI
Berdasarkan jenisnya, sosialisasi
dibagi menjadi dua: sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi
sekunder (dalam masyarakat). MenurutGoffman kedua proses tersebut
berlangsung dalam institusi total, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja.
Dalam kedua institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang
sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun tertentu,
bersama-sama menjalani hidup yang terkukung, dan diatur secara formal.
· Sosialisasi primer
]Peter L. Berger dan Luckmann mendefinisikan
sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa
kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer
berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah.
Anak mulai mengenal anggota keluarga dan
lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan
orang lain di sekitar keluarganya.
Dalam tahap ini, peran orang-orang
yang terdekat dengan anak menjadi sangat penting sebab seorang anak melakukan
pola interaksi secara terbatas di dalamnya. Warna kepribadian anak akan sangat ditentukan oleh warna kepribadian dan
interaksi yang terjadi antara anak dengan anggota keluarga terdekatnya.
· Sosialisasi sekunder
Sosialisasi sekunder adalah suatu
proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan
individu ke dalam kelompok tertentu dalam masyarakat.
Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi.
Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru.
Sedangkan dalam proses desosialisasi, seseorang mengalami 'pencabutan'
identitas diri yang lama.
Ø TIPE
SOSIALISASI
Setiap kelompok masyarakat mempunyai
standar dan nilai yang berbeda. Contoh, standar 'apakah seseorang itu
baik atau tidak' di sekolah dengan di kelompok sepermainan tentu berbeda.
Di sekolah,
misalnya, seseorang disebut baik apabila nilai ulangannya di atas tujuh atau
tidak pernah terlambat masuk sekolah. Sementara di kelompok sepermainan,
seseorang disebut baik apabila solider dengan teman atau saling membantu.
Perbedaan standar dan nilai pun tidak terlepas dari tipe sosialisasi yang ada.
Ada dua tipe sosialisasi. Kedua tipe sosialisasi tersebut adalah sebagai
berikut.
· Formal
Sosialisasi tipe ini terjadi melalui
lembaga-lembaga yang berwenang menurut ketentuan yang berlaku dalam negara,
seperti pendidikan di sekolah dan pendidikanmiliter.
· Informal
Sosialisasi tipe ini terdapat di
masyarakat atau dalam pergaulan yang bersifat kekeluargaan, seperti antara
teman, sahabat, sesama anggota klub, dan kelompok-kelompok sosial yang ada
di dalam masyarakat.
Ø POLA
SOSIALIASI
Sosiologi dapat dibagi menjadi dua
pola: sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatoris. Sosialisasi
represif (repressive socialization) menekankan pada penggunaan
hukuman terhadap kesalahan. Ciri lain dari sosialisasi represif adalah
penekanan pada penggunaan materi dalam hukuman dan imbalan. Penekanan pada kepatuhan
anak dan orang tua. Penekanan pada komunikasi yang bersifat satu arah,
nonverbal dan berisi perintah, penekanan sosialisasi terletak pada orang tua
dan keinginan orang tua, dan peran keluarga sebagai significant other.Sosialisasi
partisipatoris (participatory socialization) merupakan pola di mana
anak diberi imbalan ketika berprilaku baik. Selain itu, hukuman dan imbalan
bersifat simbolik. Dalam proses sosialisasi ini anak diberi kebebasan.
Penekanan diletakkan pada interaksi dan komunikasi bersifat
lisan yang menjadi pusat sosialisasi adalah anak dan keperluan anak. Keluarga
menjadigeneralized other.
Ø PROSES
SOSIALISASI
Menurut George Herbert Mead
George Herbert Mead berpendapat
bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan menlalui tahap-tahap
sebagai berikut.
· Tahap persiapan (Preparatory Stage)
Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan,
saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada
tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Contoh: Kata "makan" yang
diajarkan ibu kepada
anaknya yang masih balita diucapkan "mam". Makna kata tersebut juga
belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna
kata makan tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
· Tahap meniru (Play Stage)
Tahap ini ditandai dengan semakin
sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk
kesadaran tentang anma diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya, dan sebagainya.
Anak mulai menyadari tentang apa yang dilakukan seorang ibu dan apa yang
diharapkan seorang ibu dari anak. Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan
diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada tahap ini. Kesadaran
bahwa dunia sosial manusia berisikan banyak orang telah mulai terbentuk.
Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi
pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai.
Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (Significant
other)
· Tahap siap bertindak (Game Stage)
Peniruan yang dilakukan sudah mulai
berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan
sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang
lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya
tuntutan untuk membela keluarga dan
bekerja sama denganteman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin
banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan
teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar
keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak
mulai menyadari bahwa ada norma tertentu
yang berlaku di luar keluarganya.
· Tahap penerimaan norma kolektif (Generalized Stage/Generalized
other)
Pada tahap ini seseorang telah
dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat
secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan
orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas.
Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama--bahkan
dengan orang lain yang tidak dikenalnya-- secara mantap. Manusia dengan
perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti
sepenuhnya
Ø AGEN
SOSIALISASI
Agen sosialisasi adalah pihak-pihak
yang melaksanakan atau melakukan sosialisasi. Ada empat agen sosialisasi yang
utama, yaitu keluarga, kelompok bermain, media massa,
dan lembaga pendidikan sekolah. Pesan-pesan yang disampaikan agen sosialisasi berlainan
dan tidak selamanya sejalan satu sama lain. Apa yang diajarkan keluarga mungkin
saja berbeda dan bisa jadi bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh agen
sosialisasi lain. Misalnya, di sekolah anak-anak diajarkan untuk tidak merokok,
meminum minman keras dan menggunakan obat-obatan terlarang (narkoba), tetapi
mereka dengan leluasa mempelajarinya dari teman-teman sebaya atau media massa.
Proses sosialisasi akan berjalan lancar apabila pesan-pesan yang disampaikan
oleh agen-agen sosialisasi itu tidak bertentangan atau selayaknya saling
mendukung satu sama lain. Akan tetapi, di masyarakat, sosialisasi dijalani oleh
individu dalam situasi konflik pribadi karena dikacaukan oleh agen sosialisasi
yang berlainan.
· Keluarga (kinship)
Bagi keluarga inti (nuclear
family) agen sosialisasi meliputi ayah, ibu, saudara kandung, dan saudara
angkat yang belum menikah dan tinggal secara bersama-sama dalam suatu rumah. Sedangkan pada masyarakat yang
menganut sistem kekerabatan diperluas (extended family), agen
sosialisasinya menjadi lebih luas karena dalam satu rumah dapat saja terdiri
atas beberapa keluarga yang meliputi kakek, nenek, paman, dan bibi di samping
anggota keluarga inti. Pada masyarakat perkotaan yang telah padat penduduknya,
sosialisasi dilakukan oleh orang-orabng yang berada diluar anggota kerabat
biologis seorang anak. Kadangkala terdapat agen sosialisasi yang merupakan
anggota kerabat sosiologisnya, misalnya pramusiwi, menurut Gertrudge Jaegerperanan
para agen sosialisasi dalam sistem keluarga pada tahap awal sangat besar karena
anak sepenuhnya berada dalam ligkugan keluarganya terutama orang tuanya
sendiri.
· Teman pergaulan
Teman pergaulan (sering juga disebut
teman bermain) pertama kali didapatkan manusia ketika ia mampu berpergian ke
luar rumah. Pada awalnya, teman bermain dimaksudkan sebagai kelompok yang
bersifat rekreatif, namun dapat pula memberikan pengaruh dalam proses
sosialisasi setelah keluarga. Puncak pengaruh teman bermain adalah pada
masa remaja.
Kelompok bermain lebih banyak berperan dalam membentuk kepribadian seorang
individu.
Berbeda dengan proses sosialisasi
dalam keluarga yang melibatkan hubungan tidak sederajat (berbeda usia,
pengalaman, dan peranan), sosialisasi dalam kelompok bermain dilakukan dengan
cara mempelajari pola interaksi dengan orang-orang yang sederajat dengan
dirinya. Oleh sebab itu, dalam kelompok bermain, anak dapat mempelajari
peraturan yang mengatur peranan orang-orang yang kedudukannya sederajat dan
juga mempelajari nilai-nilai keadilan.
· Lembaga pendidikan formal (sekolah)
Menurut Dreeben, dalam
lembaga pendidikan formal seseorang belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Aspek lain yang juga dipelajari adalah aturan-aturan mengenai kemandirian (independence),
prestasi (achievement), universalisme, dan kekhasan (specificity).
Di lingkungan rumah seorang anak mengharapkan bantuan dari orang tuanya dalam
melaksanakan berbagai pekerjaan, tetapi di sekolah sebagian
besar tugas sekolah harus dilakukan sendiri dengan penuh rasa tanggung jawab.
· Media massa
Yang termasuk kelompok media massa di
sini adalah media cetak (surat kabar, majalah, tabloid),
media elektronik (radio, televisi, video, film). Besarnya pengaruh media sangat tergantung pada kualitas
dan frekuensi pesan yang disampaikan. Contoh:
a. Penayangan acara SmackDown! di
televisi diyakini telah menyebabkan penyimpangan perilaku anak-anak dalam
beberapa kasus.
b. Iklan produk-produk tertentu telah meningkatkan pola
konsumsi atau bahkan gaya hidup masyarakat pada umumnya.
c. Gelombang besar pornografi, baik dari internet maupun media
cetak atau tv, didahului dengan gelombang game eletronik dan segmen-segmen
tertentu dari media TV (horor, kekerasan, ketaklogisan, dan seterusnya)
diyakini telah mengakibatkan kecanduan massal, penurunan kecerdasan,
menghilangnya perhatian/kepekaan sosial, dan dampak buruk lainnya.
· Agen-agen lain
Selain keluarga, sekolah,
kelompok bermain dan media massa, sosialisasi juga dilakukan oleh institusi agama,
tetangga, organisasi rekreasional, masyarakat,
dan lingkungan pekerjaan. Semuanya membantu seseorang membentuk pandangannya
sendiri tentang dunianya dan membuat presepsi mengenai tindakan-tindakan yang
pantas dan tidak pantas dilakukan. Dalam beberapa kasus, pengaruh-pengaruh
agen-agen ini sangat besar.
BAB III : PENUTUPAN
Ø Kesimpulan
Dari uraian makalah yang kami buat, dapat disimpulkan bahwa alasan manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena:
Dari uraian makalah yang kami buat, dapat disimpulkan bahwa alasan manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena:
ü
Ada dorongan untuk berinteraksi
ü
Manusia tunduk pada aturan, norma
social
ü
Manusia memiliki kebutuhan untuk
berinteraksi dengan orang lain.
ü Manusia
tidak dapat hidup sebagai manusia jika tidak ada di tengah-tengah manusia.
Ø Ada
beberapa faktor yang mendasari terjadinya interaksi sosial, yaitu: imitasi,
sugesti, identifikasi, dan simpati. Media (agen) sosialisasi utama yang
menjadi wahana di mana individu akan mengalami sosialisasi untuk mempersiapkan
dirinya masuk ke dalam masyarakat sepenuhnya antara lain:
ü Keluarga
ü Teman
Sepermainan (Kelompok Sebaya)
ü Sekolah
ü
Lingkungan Kerja
ü Media
Massa
Dengan terselesaikannya makalah ini, semoga dapat dimanfaatkan dan dapat dijadikan sumber pengetahuan baru oleh semua pihak. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini karena keterbatasan materi yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan agar kami bisa menjadi lebih baik dalam meyusun makalah.
Post a Comment